by M.W. Noviyanti, M. Pd – Kepala TK Strada Dewi Sartika II

WhatsApp Image 2026-02-24 at 14.28.35

Menghadirkan kembali budaya Senyum, Salam, dan Sapa (3S) pada anak-anak prasekolah bukan hanya tentang mengajarkan etika, tetapi juga merupakan langkah untuk menyelamatkan kecerdasan sosial generasi berikutnya di era dominasi layar digital. Berikut adalah analisis mendalam terkait fenomena ini yang didukung oleh sudut pandang para ahli.

Urgensi 3S: Menghumanisasi Manusia di Zaman Digital

Di era modern, komunikasi langsung seringkali tersaingi oleh kecepatan jari di atas layar. Fenomena phubbing (mengabaikan orang disekitar untuk fokus pada ponsel) telah mempengaruhi pola asuh, sehingga anak-anak kehilangan figur teladan dalam berinteraksi dan membuat anak canggung saat harus berhadapan langsung dengan orang lain.

Budaya 3S merupakan dasar dari empati. Ketika seorang anak tersenyum dan menyapa, mereka sedang mengakui hadirnya orang lain. Dalam dunia yang semakin egois, keterampilan ini menjadi “superpower” sosial yang akan memisahkan mereka sebagai pemimpin yang berorientasi manusia di masa mendatang.

Mengapa Budaya ini Memudar?

Beberapa hal yang muncul sehingga budaya 3S ini memudar, diantaranya:

  • Ketergantungan Gawai

Interaksi digital bersifat transaksional dan lebih sedikit ekspresi wajah/emosi yang nyata. Dengan banyaknya berinteraksi dengan gawai membuat kurangnya interaksi dengan orang lain, teman sebaya, lingkungan rumah sehingga membuat anak kehilangan latihan membaca ekspresi mikro (senyuman, kerutan dahi, atau binar mata).

  • Minimnya Teladan

Banyak orang dewasa kerap kali terlampau terfokus pada kehidupan pribadi, sehingga melupakan untuk memberikan contoh sapaan ramah kepada tetangga atau orang di sekitarnya.

  • Kecemasan Sosial

Pandemi dunia beberapa tahun lalu membatasi interaksi fisik, yang secara tidak langsung menimbulkan jarak emosional bagi anak-anak yang dibesarkan di masa itu. Sehingga ketika masuk dunia pendidikan mereka tampak canggung sehingga memerlukan Latihan dan pembiasaan terus menerus terutama senyum, salam dan sapa.

Pandangan Ahli

Para ahli perkembangan anak menekankan bahwa karakter tidak dapat diajarkan hanya dengan teori, tetapi melalui pembiasaan (habitualisasi).

Ki Hadjar Dewantara: Bapak Pendidikan Indonesia menekankan gagasan Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberikan contoh). Budaya 3S tidak akan berkembang apabila pendidik dan orang tua hanya memberikan perintah tanpa menerapkannya secara konsisten. Dengan keteladanan yang dilakukan orang tua dan guru setiap saat terlebih saat hadir ke sekolah di depan gerbang sekolah para guru dan staf menyambut anak dengan budaya senyum, salam, sapa sehingga dapat memberikan contoh dan akan menjadi pembiasaan anak ketika berjumpa dengan orang lain dimana saja.

Thomas Lickona (Ahli Pendidikan Karakter): Dalam karyanya Educating for Character, Lickona menyatakan bahwa karakter meliputi pengetahuan moral, emosi moral, dan perilaku moral. 3S merupakan wujud konkret dari perilaku etis yang mendidik anak untuk menghormati orang lain secara otomatis. Budaya 3S mengajarkan kepada kita terutama anak -anak usia dini untuk dapat menghormati orang lain melalui hal kecil ini memberi salam, senyuman dan sapaan yang singkat lambat laun akan menjadi pembiasaan sehingga karekter mereka akan terbentuk menjadi pribadi yang bermoral.

Dalam bukunya Masganti Sitorus (2017) menegaskan bahawa Anak-anak usia dini berada pada masa keemasan (golden age). Hal ini dikatakan masa keemasan karna pada anak usia dini terjadi perkembangan yang sangat menakjubkan dan terbaik. Ini dapat terlihat dari kemampuan berinteraksi dengan orang tua dan orang lain. Melalui simulasi sosial seperti 3S akan membentuk strukur otak anak terkait kecerdasan emosional (EQ).

Kesimpulan

Membangun budaya 3S di era modern tidak berarti mengajarkan anak untuk patuh tanpa alasan, tetapi memberikan mereka pemahaman tentang etika sosial. Senyum merupakan bentuk komunikasi non-verbal yang paling kuat, sementara Salam dan Sapa berfungsi sebagai jembatan penghubung antarindividu. Hubungan akan berubah menjadi lebih akrab dengan sapaan yang ramah karena adanya konsistensi dalam saling menyapa seiap hari.

“Teknologi boleh maju dengan cepat dan pesat, namun adab tetap menjadi mata uang yang tidak akan pernah kehilangan nilainya”

Sebarkan artikel ini